Beradaptasi Melestarikan Keanekaragaman Hayati untuk Generasi Mendatang

admin
0 0
Beradaptasi Melestarikan Keanekaragaman Hayati untuk Generasi Mendatang
Read Time:15 Minute, 7 Second


Saya sedang menunggu sambil duduk santai di bangku. Tiba-tiba, saya mendengar teriakan Junot yang berlari menghampiri sambil memanggil namaku.

“Om! Om!”

“Kenapa sih, Junot? kok teriak-teriak?”

Junot memperlihatkan foto dari ponselnya ke saya. “Lihat deh! Aku nemu foto dino, lho!”

“Dino? Ini kan komodo!” seruku balik.

“Oh ini namanya komodo? Kok aku nggak pernah lihat komodo di sekitar kita? Pengen deh lihat aslinya.”

Ini semua karena persebaran flora dan fauna di Indonesia sangat beragam. Flora itu tumbuhan, sedangkan fauna itu hewan. Flora dan fauna di Indonesia bisa sangat beragam karena iklim yang ada di Indonesia sangat cocok untuk banyak flora dan fauna sehingga mereka semua dapat banyak hidup dan tumbuh di Indonesia.

Indonesia dikenal dengan beragam keanekaragaman hayati yang dimiliki. Bahkan, berdasarkan data di situs Convention on Biological Diversity, Indonesia memiliki 10 persen spesies tumbuhan berbunga, 12 persen spesies mamalia, 16 persen spesies reptil dan 17 persen spesies burung dunia.

Selain itu, Indonesia juga ditinggali 35 spesies primata dan 270 spesies amfibi. Berbagai jenis hewan maupun tumbuhan tersebar di pulau-pulau Indonesia yang konon mencapai 17.000 pulau. Begitu menarik bukan.

Keanekaragaman hayati lewat persebaran flora dan fauna di Indonesia ini dipengaruhi sejumlah faktor, seperti edafik, topografi, iklim dan manusia.

Persebaran flora dan fauna di Indonesia itu terbagi menjadi tiga wilayah. Mulai dari flora, di setiap wilayah Indonesia yang sangat beragam karena dipengaruhi oleh kondisi alamnya. Maka, persebaran flora di tiap wilayah memiliki ciri-ciri dan contoh yang beragam. Misalnya flora dari Papua yang merupakan wilayah timur. Salah satu cirinya adalah memiliki daun yang sejajar, contohnya pohon sagu.

Letak Indonesia di kawasan tropis, sehingga iklimnya stabil. 

Sedangkan persebaran fauna di Indonesia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok barat, kelompok tengah, dan kelompok timur. 

  • Fauna Barat : bertipe asiatis, disebut juga sebagai fauna dangkalan sunda. Berlokasi dari Sumatera sampai Jawa. Contoh : Rusa.
  • Fauna Tengah : disebut juga fauna peralihan. Berlokasi dari Sulawesi sampai Nusa Tenggara. Contoh : Komodo
  • Fauna Timur : disebut juga fauna dangkalan sahul. Berlokasi dari kepulauan Maluku sampai Papua. Contoh : Burung Cenderawasih.

Persebaran fauna di Indonesia yang beragam, di setiap wilayahnya memiliki ciri-ciri dan contoh yang beragam.

Keseluruhan keanekaragaman hayati yang berada di seluruh permukaan bumi baik tumbuhan, hewan, dan ekosistem ini disebut Biodiversitas.

Biodiversitas memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan di bumi, karena menyediakan segala macam sumber daya alam yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Mulai dari menjaga stabilitas iklim, siklus air, siklus nutrisi hingga menyerap karbon dioksida dan polusi agar menjadi tempat yang nyaman untuk ditempati.

Perubahan iklim menyebabkan hilangnya biodiversitas secara mendadak pada abad ini.

Secara garis besar, Biodiversitas adalah semua kehidupan di atas bumi ini baik tumbuhan, hewan, jamur dan mikroorganisme serta berbagai materi genetik yang dikandungnya dan keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka hidup.

Indonesia beriklim tropis dan banyak mendapatkan curah hujan sehingga memiliki banyak hutan hujan tropis. Oleh karena itu, persebaran flora dan fauna di Indonesia memiliki kelompok tersendiri.

Keanekaragaman hayati di Indonesia dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik.

Sesuai namanya, faktor abiotik merupakan faktor yang bukan merupakan makhluk hidup, misalnya seperti iklim, tanah, dan keadaan geologis lainnya. Sedangkan, faktor biotik adalah faktor yang berhubungan dengan makhluk hidup. Misalnya seperti aktivitas manusia.

Dipengaruhi oleh 4 faktor persebaran flora dan fauna yang memengaruhi keanekaragaman hayati.

1. Faktor Klimatik

Faktor iklim dapat mempengaruhi persebaran flora dan fauna. Beberapa contoh faktor klimatik yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna termasuk seperti iklim, suhu, curah hujan, kelembaban, angin, dan lain sebagainya.

Daerah dengan iklim yang berbeda, memiliki suhu, kelembapan, angin, sinar matahari, curah hujan, serta makhluk hidup yang berbeda pula.

Hal tersebut disebabkan ada flora dan fauna yang membutuhkan lingkungan dengan faktor iklim tertentu. Habis ini kita coba bahas deh empat faktor yang berhubungan dengan iklim, yaitu suhu udara, kelembaban udara, angin, dan curah hujan.

2. Faktor Topografi

Faktor topografi dalam persebaran flora dan fauna mengacu pada bentuk permukaan Bumi, seperti adanya gunung, lembah, sungai, danau, atau pantai. Selain itu, kemiringan sebuah lahan juga bisa mempengaruhi makhluk hidup di wilayah tersebut.

Misalnya, pada wilayah dataran yang sangat miring dan curam, tentu terbatas sekali hewan yang bisa tinggal di situ. Mungkin hanya kambing gunung saja, yang mampu beraktivitas dan merumput di sekitar area tersebut.

3. Faktor Edafik

Faktor edafik persebaran flora dan fauna merupakan kondisi tanah suatu daerah. Kondisi tanah itu bisa dilihat dari berbagai aspek, seperti tekstur, tingkat kegemburan, nutrisi, kandungan air tanah, dan kandungan udaranya.

Selain mempengaruhi tumbuhan, keadaan tanah juga berpengaruh terhadap hewan. Misalnya ada tanah yang subur dan karakteristiknya cocok untuk rumput. Dengan situasi tersebut, tentu banyak hewan merumput yang akan tinggal di daerah tersebut.

4. Faktor Manusia

Faktor manusia termasuk faktor biotik yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna. Misal, bila manusia menebang pohon di hutan tanpa melakukan pelestarian lingkungan, habitat hewan di daerah tersebut tentu hilang.

Sehingga, persebaran fauna tertentu di sana bisa berubah, atah bahkan punah. Punahnya flora dan fauna akan berdampak banyak, mulai dari perubahan iklim bencana alam hingga rantai makanan yang punah. Kalian masih belum sadar sampai di sini?

Berbicara tentang perubahan iklim juga berbicara soal keanekaragaman hayati. 

Penelitian menunjukkan bahwa krisis iklim akan menjadi jauh lebih buruk apabila tidak ada pengurangan emisi. Dalam laporan terbarunya menyebutkan jika pemanasan global di tingkat 1,5 derajat C akan mengakibatkan gletser di seluruh dunia hilang secara keseluruhan atau kehilangan sebagian besar massanya; 350 juta orang tambahan akan mengalami kelangkaan air pada tahun 2030 dan 14 persen spesies daratan akan menghadapi risiko kepunahan yang tinggi.

Keanekaragaman hayati sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Kita sudah melihat dampaknya terhadap ekosistem dimana perubahan iklim yang mempengaruhi kestabilan alam bermuara pada hilangnya keanekaragaman hayati.

Kenaikan suhu bumi akan membuat beberapa jenis spesies berada diluar batas toleransi suhu maksimumnya sehingga tidak mampu bertahan dan kemudian menjadi rentan terhadap kepunahan. Mempertahankan dan memulihkan keanekaragaman hayati dalam ekosistem habitatnya merupakan bentuk peningkatan ketahanan terhadap tekanan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Penanganan biodiversitas menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Banyak orang bilang, bahwa hutan tropis, termasuk yang ada di Indonesia, merupakan paru-parunya dunia. Paru-paru itu akan terus berdenyut setiap detik, setiap menit, setiap jam dan sepanjang kehidupan ini masih ada. Akan tetapi, bagaimana kalau paru-paru dunia itu sudah terserang berbagai penyakit, seperti kanker?

Dampak negatif perubahan iklim tengah menjadi ancaman bagi kehidupan umat manusia. Dampak perubahan iklim juga bisa berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem, terutama masalah kelestarian keanekaragaman hayati. Di sisi lain, kelestarian keanekaragaman hayati dinilai sangat penting untuk mendukung upaya manusia dalam beradaptasi terhadap terjadinya perubahan iklim.

Tentu paru-paru itu tidak bekerja secara maksimal, nafas tersendat-sendat, dan dampaknya adalah badan sendiri tidak sehat, lemas dan loyo.

Kenaikan suhu permukaan bumi, melelehnya salju di kutub utara dan kenaikan permukaan air laut merupakan beberapa gambaran yang terjadi sebagai dampak pemanasan global.

Tidak cukup sampai disitu saja, perubahan iklim akibat dari pemanasan global, yang terjadi dengan perlahan-lahan namun pasti, juga membawa dampak yang sangat besar bagi keanekaragaman hayati, mulai dari tingkatan spesies sampai ekosistem. Pada akhirnya kehidupan manusia pun akan terkena imbas dari perubahan iklim tersebut.

Beberapa dampak langsung terjadinya perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati, diantaranya:

1) Spesies Range (cakupan jenis)

Masing-masing spesies memiliki rentang suhu tertentu di mana spesies tersebut mampu beradaptasi dan bertahan hidup. Kenaikan suhu bumi akan membuat beberapa jenis spesies berada diluar batas toleransi suhu maksimumnya sehingga tidak mampu bertahan dan kemudian menjadi rentan terhadap kepunahan. 

Perairan di seluruh dunia telah memainkan peranan penting dalam melawan pemanasan global dengan menyerap sekitar 93% karbondioksida yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.

2) Perubahan Fenologi

Perubahan iklim menyebabkan pergeseran dalam siklus reproduksi dan pertumbuhan organisme. Pada tumbuhan misalnya, masa perbungaan dipengaruhi oleh suhu tertentu. Pemanasan global dapat membuat tumbuhan-tumbuhan tertentu berbunga lebih cepat, sementara serangga-serangga pembantu penyerbukan belum siap sehingga siklus reproduksinya terganggu.

3) Perubahan Interaksi Antar Spesies

Perubahan iklim dapat mengakibatkan terjadinya perubahan interaksi antar spesies sehingga memiliki konsekuensi yang sangat penting bagi stabilitas dan fungsi ekosistem, dimana ekosistem tidak lagi berfungsi ideal. Pemanasan iklim dengan cepat mengubah waktu dan tingkat bunga pada tumbuhan serta migrasi pada hewan yang akan mengganggu interaksi antar spesies.

4) Laju kepunahan

Perubahan iklim mempercepat laju kepunahan beberapa jenis spesies, misalnya spesies yang berada di ujung rantai makanan seperti karnivora, spesies lokal endemik dan spesies migran.

5) Penyusutan Keragaman Sumber Daya Genetik

Perubahan iklim dapat menyebabkan kemarau yang berkepanjangan, ataupun sebaliknya curah hujan yang terlalu tinggi. Hal-hal tersebut mempunyai dampak yang besar terhadap lingkungan, misalnya kebakaran hutan atau banjir menjadi lebih sering terjadi.

Bencana alam dapat mengakibatkan berkurangnya populasi dan keragaman spesies, spesies endemik terancam punah dan juga hilangnya habitat satwa liar. Apabila terlanjur terjadi kerusakan habitat, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat recovery atau terjadi suksesi secara alami.

Masyarakat yang tinggal berdekatan dengan keberadaan keanekaragaman hayati juga harus dipersiapkan agar dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim. Tujuannya, apabila masyarakat tersebut terkena dampak perubahan iklim, maka mereka tidak akan memberikan tekanan terhadap kelestarian keanekaragaman hayati.

Perubahan iklim mempengaruhi pola musim yang berdampak besar terhadap sistem pertanian, termasuk di Indonesia. Penanaman tanaman-tanaman pangan seperti padi, palawija ataupun sayur-mayur masih sangat bergantung pada musim. Kemarau yang terlalu panjang atau hujan yang turun terus menerus sepanjang tahun tentu dapat mengakibatkan gagal panen yang pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan dan ketahanan pangan manusia.

Salah satu bentuk adaptasi dalam hal ini adalah dengan mengembangkan pola pemanfaatan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar masyarakat secara lestari, terutama keanekaragaman hayati yang kecil kemungkinannya terkena dampak perubahan iklim.

Demikian juga dengan keanekaragaman hayati sudah mulai rusak seperti penebangan yang tak terkendali, kebakaran hutan, perluasan perkebunan, perladangan dan sebagainya, yang terus menggerogoti paru-paru dunia tersebut. Tentu dunia ini yang kita ibaratkan sebagai badan, akan terganggu juga. Seperti yang sudah nampak, yaitu pemanasan global yang mengakibatkan berubahnya iklim, cuaca tidak menentu, timbul berbagai penyakit, bencana di mana-mana. Itulah akibat dari terserangnya “kanker” di dalam “paru-paru” dunia tersebut.

Lantas bagaimana cara mengobati “kanker ” di dalam paru-paru dunia tersebut, agar keanekaragaman hayati menjadi sehat? Sebenarnya sudah banyak kegiatan yang dapat kita contoh untuk memperbaiki keanekaragaman hayati. Salah satunya adalah dengan mencontoh apa yang telah dilakukan oleh MSIG Indonesia yang memiliki nilai peduli terhadap isu perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai keanekaragaman hayati yang besar, namun Indonesia juga merupakan salah satu negara yang tingkat kehilangan atau kerusakan keanekaragaman hayatinya cukup besar.

Ketika manusia semakin membuka kawasan yang dihuni, maka ancaman keanekaragaman hayati pun semakin dekat.

Hal ini juga ditangkap oleh MSIG Indonesia yang melihat generasi mendatang harus lebih baik.

Sebagai satu di antara perusahaan Asuransi Umum (Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda) di Asia, MSIG memiliki komitmen dan nilai perusahaan untuk mendukung biodiversity lewat edukasi. 

Dalam kolaborasi mitra MSIG bersama Conservation International Asia-Pacific (CIAP) untuk melindungi keanekaragaman hayati dengan cara mendukung konservasi hutan dan laut.

Alam memberi solusi sebesar 30% untuk mengurangi perubahan iklim dengan cara membantu menghilangkan atau menghindari emisi karbon.

Kemitraan dari MSIG bertujuan untuk berkontribusi terhadap konservasi sekitar 9.500 hektar hutan, yang setara dengan sekitar 13.000 lapangan sepak bola, dan 72.500 hektar lautan, suatu area yang lebih besar sedikit daripada Singapura.

Ternyata sudah banyak upaya konservasi keanekaragaman sejati di Asia Pasifik, yang menyokong kesejahteraan hidup jutaan orang melalui air, makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan pengaturan iklim yang disediakan oleh ekosistem ini.

Menurut perkiraan, upaya-upaya ini dapat membantu menghilangkan atau menghindari sekitar 4,7 juta ton emisi karbon, yang setara dengan menyingkirkan sekitar 1 juta mobil dari jalan selama satu tahun. Tujuan-tujuan ini ditetapkan sehingga dapat membantu menjamin masa depan planet kita dengan ekosistem yang berkembang dan masyarakat yang berkelanjutan, termasuk kelangsungan hidup kita dan kesejahteraan hidup generasi mendatang.

Bayangkan besar sekali dampak yang telah dilakukan.

Agar melihat arti lebih dalam segala hal, MSIG juga bermitra dengan Conservation International Asia-Pacific (CIAP) untuk melindungi keanekaragaman hayati lewat dukungan berbagai kegiatan konservasi hutan dan laut.

Keduanya saling menyelaraskan kegiatan perusahaan dengan nilai yang diyakini. Adapun beberapa kegiatan CSR dalam program MSIG Biodiversity yang telah dilakukan dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, mulai dari :

1. Biodiversity Fun Class

MSIG Indonesia memberdayakan generasi mendatang melalui pengetahuan keanekaragaman hayati. Sehingga menumbuhkan gaya hidup berkelanjutan dan cinta akan alam sejak dini sangat membantu melindungi Keanekaragaman Hayati planet kita serta masa depan kita.

Itulah sebabnya MSIG Indonesia merancang dan mengimplementasikan program khusus yang disebut Biodiversity Fun Class untuk siswa sekolah dasar terpilih di Jakarta, Bogor dan Tangerang.

Selain itu, MSIG bekerja sama dengan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk membantu anak-anak setempat menerima pendidikan, dalam mengidentifikasi sekolah-sekolah sesuai dengan kegiatan ini dan akan mendapat manfaat terbesar.

Sejumlah sukarelawan yang berasal dari staf MSIG menjalani pelatihan dalam workshop ramah lingkungan sebagai persiapan atas peran mereka sebagai fasilitator dalam Biodiversity Fun Class. Mereka juga belajar dari GNOTA cara terbaik untuk berkomunikasi dengan siswa yang berasal dari beragam latar belakang.

Di Biodiversity Fun Class, siswa mempelajari pelajaran berharga tentang keberlanjutan dan konservasi alam. Mereka diajari tentang dampak deforestasi di Indonesia melalui studi kasus tentang Suaka Margasatwa Paliyan, serta pentingnya melindungi Keanekaragaman Hayati dan perlunya mengurangi limbah dalam kehidupan sehari-hari.

2. Restorasi Hutan dan Konservasi Laut

Ada 17.000 pulau di Indonesia merupakan rumah bagi hampir 250 juta orang. Dari hutan pulau-pulau ini, pertanian, dan lautan di sekitarnya, orang-orang menerima makanan, air bersih, dan iklim yang stabil.

Bersama Pemerintah Indonesia dan Conservation International memperluas dua Taman Nasional di dalam Gedepahala untuk melindungi keanekaragaman hayati yang kaya, memastikan DAS ini tetap terjaga, dan untuk mengurangi resiko dampak lain yang disebabkan oleh degradasi hutan seperti tanah longsor dan banjir.

Hal ini juga diikuti oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan berbagai mitra, telah mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya restorasi.

Kemitraan ini juga akan berkontribusi pada perlindungan Bird’s Head Seascape (BHS), yang diakui sebagai episentrum global keanekaragaman hayati laut dan vital bagi lebih dari 350.000 orang. BHS adalah rumah bagi lebih dari 1.800 spesies ikan, tiga perempat dari karang keras dunia, dan hingga hari ini spesies baru ditemukan secara teratur.

Surga bawah laut menghadapi ancaman dari penangkapan ikan yang merusak dan ilegal, pemanenan yang berlebihan, dan pembangunan pesisir yang tidak direncanakan dengan baik.

Kemitraan ini akan mendukung program berkelanjutan dari Conservation International yang menyediakan pendidikan konservasi, peningkatan mata pencaharian, dan membantu mengembangkan pariwisata bahari yang berkelanjutan.

3. Suaka Margasatwa Paliyan

Memulihkan hutan untuk menghidupi masyarakat dan menghadapi perubahan iklim. Untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya hutan, kerja sama masyarakat setempat sangat penting dilakukan dan mereka pun diberikan pelatihan metode pertanian dan pemanenan yang berkelanjutan.

Pedoman teknis pertanian juga disediakan untuk membantu mereka mencapai kemandirian finansial yang lebih baik. Selain itu, kolaborasi dengan Universitas Gajah Mada juga dilakukan untuk menerapkan pendidikan lingkungan. Kolaborasi ini bertujuan memperkaya pengetahuan guru-guru sekolah, untuk kemudian pengetahuan tersebut bisa mereka ajarkan pada para siswa dan generasi mendatang.

Karena perubahan iklim telah menjadi perhatian utama di seluruh dunia, gerakan reboisasi semakin penting untuk dilakukan. Hutan yang dipulihkan diharapkan dapat menyerap sekitar 70.000 ton karbondioksida dalam 20 tahun yang akan datang. Selain itu, permukaan hutan dapat membantu mengurangi banjir dan longsor di area tersebut.

Sejauh ini pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia masih memiliki tantangan yang besar. Terutama dalam mengurangi tekanan laju hilangnya keanekaragaman hayati akibat berbagai hal, misalnya adanya deforestasi dan konversi hutan alam, pemanfaatan yang berlebihan (over exploitation), perburuan dan perdagangan ilegal, serta tentunya ancaman dari dampak perubahan iklim.

Sebagai generasi muda yang akan menjadi angkatan kerja di era transisi energi menuju net-zero emission 2060, para generasi muda akan menjadi penentu di dalam mempercepat transformasi angkatan kerja.

Pastinya kita sendiri dapat mengambil peran dan tindakan masuk akal dalam menjaga keanekaragaman hayati yang dapat mendukung pengurangan efek negatif perubahan iklim. Lima langkah berikut dapat mulai diterapkan.

1. Menggunakan Angkutan Umum

Hal yang paling dasar adalah pilihan membiasakan diri menggunakan angkutan umum dibandingkan mengendarai mobil karena dapat membantu mengurangi emisi karbon. Selain itu juga dapat dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Jika memang benar-benar harus memakai mobil, maka kita bisa gunakan kendaraan listrik seperti yang sedang digaungkan di Indonesia.

2. Menghemat Energi

Hemat energi saat ini menjadi prioritas karena selain bisa menghindari dari membuang-buang bahan bakar fosil untuk konsumsi listrik, kita juga bisa berhemat.

Cara sederhana dengan matikan dan cabut kabel peralatan listrik saat tidak digunakan. Perubahan ini tampaknya kecil, tetapi merupakan cara ampuh untuk menghemat energi.

3. Perbanyak Konsumsi Sayuran

Poin ini sebenarnya bisa baik untuk kesehatan kita. Kurangi makan daging dan lebih banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan berguna mengurangi emisi gas rumah kaca yang juga tinggi untuk memproduksi dan transportasinya.

4. Kurangi dan Daur Ulang

Sering kali saya mendengar manfaat dari mendaur ulang barang yang kita miliki. Tujuan dari mendaur ulang agar dapat meminimalisir emisi karbon.

Bagaimanapun daur ulang lebih sedikit dalam mengkonsumsi energi daripada memproduksi dari awal. Pengurangan dan daur ulang bisa meminimalisir kerugian. Daur ulang ini dapat dilakukan misalnya berbelanja dapat membawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi plastik.

5. Beritahu Orang Lain

Langkah kecil selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah dengan menyebarkan gerakan positif ini ke orang lain agar mereka juga memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim dan didik orang lain.

Upaya melestarikan, mengelola, dan memulihkan ekosistem yang dikenal sebagai solusi berbasis alam adalah salah satu pendekatan yang paling hemat biaya saat ini untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. 

Melindungi keanekaragaman hayati merupakan jaminan untuk masa depan yang berkelanjutan. Keanekaragaman hayati tidak hanya aksi kegiatan dengan penanaman, tetapi bagaimana manusianya sendiri perlu disadarkan agar peduli dengan dampak yang ditimbulkan akibat rusaknya “paru-paru” dunia.

Sepuluh tahun ke depan adalah jendela penting untuk mengatasi perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Padahal, Indonesia merupakan negara terkaya nomor dua dalam hal keanekaragaman hayati setelah Brasil. Upaya penyadaran kepada masyarakat sangat diperlukan, mengingat keanekaragaman hayati merupakan penopang kehidupan bagi generasi mendatang.

Kadang manusia mulai menyadari ketika sudah tertimpa akibatnya, harta benda dan korban manusia berjatuhan. Barulah mau bertindak untuk masa depan yang lebih baik.

***

Referensi :

  • https://www.bbc.com/indonesia/majalah-48350152
  • http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/dampak-perubahan-iklim-terhadap-keanekaragaman-hayati
  • https://www.msig.co.id/id/biodiversity/knowledgehub



Source link

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

EUGENE SIDNEY IS BACK AT IT AGAIN WITH HIS NEW TV NETWORK ‘SDTV NOW’!!

For Immediate Release – newstudentoffortune.com Eugene Sidney is back at it again with his new TV Network’ SDTV NOW’!! Eugene Sidney, the CEO of Sweet Dreams Entertainment, and his team have been working hard to do their latest business, SDTV Now Network, a reality. After the success of the Sweet […]
EUGENE SIDNEY IS BACK AT IT AGAIN WITH HIS NEW TV NETWORK ‘SDTV NOW’!!

Subscribe US Now